Menjadi Murobbi/yah sejati

Seperti biasa saat istirahat di perusahaan berkumpul dengan rekan-rekan kerja yang laen dan ngobrol sana sini. Teman kerja ada yang ibu-ibu, anak muda dan  bapak-bapak ada karakter sendiri-sendiri.  Ada yang kerjanya cepat ada yang santai, ada yang sedang, kayak orang Indonesia. Padahal dulu setahuku orang jepang kerjanya cepat, semua ternyata sama saja.

Seperti biasa saat makan siang kita makan bareng di kantin. Saya dan teman saya selalu membawa bekal makanan sendiri. Sebetulnya ada jatah makan dari perusahaan, namun saya tidak mau cos berhati-hati,(walaupun sudah dibilang tidak akan diberi daging babi) masakkan jepang sangat tidak aman, dari daging (haram cos orang jepang banyak yang ateis, kl punya agama(walaupun non islam)  bisa halal), kalaupun makanan laut  saat memasak bisa jadi dibarengkan daging babi, kebanyakkan minyak jepang adalah minyak babi katanya lebih enak. Bumbu-bumbunnyapun banyak yang mengandung hewani. Dengan berbagai alasan itulah kami tidak ambil jatah makan dari perusahaan, mungkin akan lebih repot cos saat pagi hari harus buat bekal makan, dan pengeluaranpun lebih banyak, namun saya sangat yakin Allah akan mengganti yang jauh lebih banyak.amin

Hari ini tadi saya sempat kaget ketika salah satu ibu-ibu bertanya ” Edi san, miso,  hiru gohan taberu toki,  tsukurikata dou? osiete” (tidak sesuai dengan ejaan bhs jepang yang benar)itu kurang lebih pertanyaannya. Artinya” cara buat sup kayak yang kamu makan saat makan siang bagaimana caranya, tolong ajari”.

Mungkin saat makan siang lauk saya kelihatan enak hehe. Sampai orang jepangpun pengen buat. Seringnya saya buat soto, kare ayam kadang sayur lodeh, kadang oseng dan laennya. Dengan selintas saya beritahu caranya, dan katanya mau  praktek. Trus setelah selesai tanya lagi bagaimana cara buat “Nasi goreng” ya Nasi goreng, nama ini tidak asing bagi orang jepang dimanapun. Ya emang disetiap rumah makan indonesia yang ada di jepang , menu ini pasti ada.

Begitulah pentingnya kita mengajarkan sesuatu kepada orang yang belum tahu, akan sangat berharga. walaupun yang ngajari sebetulnya juga tidak pinter. Saya sendiri masalah masak memasak kan gak jago. Tapi Apa yang saya tahu saya berikan dan orang jepang sangat senang. dan bisa menambah keakraban juga.

Wahai sahabat pembaca yang budiman, sungguh mulia jadi seorang guru itu, seorang pengajar, seorang murobbi/yah, guru kehidupan. kita bisa membahagiakan orang laen, bisa memberikan kemudahan bagi orang lain. Ingat kita bisa seperti sekarang karena jasa seorang guru. Guru tidak harus di instansi formal, dimanapun dan kapanpun kita bisa jadi guru, lewat blog pun kita bisa jadi guru. Dan Guru kehidupan adalah dari apa yang kita lihat, kita dengar dan kita rasakan, yang jelas apa yang kita ajarkan harus seuai dengan pengetahuan kita, dan sesuai dengan koridor syar`i. Jika kita ikhlas lillahi ta`ala insyaAllah itu akan menjadi investasi akherat kita, amal jariyah yang tidak akan putus sampai kiamat. Subhanallah kita akan terheran-heran di Surga kelak, karena aliran pahala  dari amalan kita itu.

Untuk para bapak, ibu guru,murobbi,murobbiyah, dan  guru kehidupanku dimanapun berada , saya mengucapkan Jazakumullah khoiron katsiro.  semoga Allah senantiasa menggelorakan hati kami untuk senantiasa menyebarkan sedikit yang kami punya. Semoga bisa menjadi seorang Murobbi/yah sejati..amin ya Rabb.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: