Kenangan di Puncak Lawu

Subhanallah foto kenangan saat kebersamaan di SMA dulu akhirnya muncul. Tadi pagi salah satu teman(Narno) upload nich foto di FB. Langsung dech saya tandai diri dan saya download. Saat itu kami masih di kelas 2 SMA. kurang lebih sudah 7 tahun silam Awal cerita saya belum pernah muncak gunung, tapi karena sahabat-sahabatku ini yang selalu bersama mengajak. Akupun tak kuasa menolak, saya ijin ibu dan diijinkan,Alhamdulillah. biasanya jarang dapat ijin kalau petualang kayak gini, kan anak mama jadi dimanja😀. Berbeda dengan teman-temanku yang laen mereka sudah pernah muncak lawu dan sudah biasa.

Persiapanpun kurang tahu apa saja yang diperlukan. Penutup kepalapun tidak punya akhirnya saat mau berangkat mampir pasar dulu dan beli. Jaketpun tidak punya yang tebal akhirnya saya pinjem mas joko. Makanya ketika lihat foto itu saya bener-bener ga yakin, siapa yang pakai jaket hitam itu? kok kayak aku, tapi kok ga yakin, perasaan ga punya jaket kayak gitu. (tanyaku dalam hati) Setelah diingat-ingat ternyata dulu pinjem mas joko;)) persiapan yang laenpun nunut teman-teman yang sudah biasa.

Ada kejadian yang gak pernah terlupakan dalam muncak di lawu itu. saat  turun dari puncak pagi hari salah satu teman (iwen) kakinya sakit(udunen) akhirnya dengan segala perjuangan dia tetap bertahan dan melanjutkan perjalanan. Namun ditengah perjalanan akhirnya gak kuat juga, dan bertepatan di sebuah sendang ada gua kecil, akhirnya kita sepakat istirahat di situ. Dan operasi praktek langsungpun akhirnya ku lakukan. Ketika itu dibiarkan akan menambah sakit teman saya tadi. Maka sayapun melakukan pengeluaran mata udun dengan paksa. Teman-teman juga pada heran ” wah edi dokter langsung praktek” Sejenak setelah operasi itu si iwen tidur sejenak di gua kecil tadi. Sambil menunggupun saya tidak sia-siakan untuk menikmati sendang. Akhirnya kumandi di situ cos sejak kemarin tidak mandi:-D

Selain belum mandi sejak kemarin ada sugesti yang mendorong saya untuk mandi disitu. Kata orang jawa kalau mandi disitu akan mendatangkan kesuksesan. Astaghfirullah saat itu saya belum begitu paham tentang syirik cuma ngikuti orang jawa saja dan langsung percaya. Setelah saya tahu bahwa itu bagian dari syirik sayapun langsung beristighfar. Ketika sampai rumah saya ceritakan kejadian itu kepada orang tua dan simbah merekapun kagum ” kok bisa, padahal di sendang itu jarang ada air, apalagi buat mandi, buat minum aja susah kalau ga bejane” itulah kurang lebih komentar dari orang-orang yang saya ceritain. Sudahlah yang penting saya sudah taubat dan semoga tidak terjadi pada generasi selanjutnya.amin

Tibalah saatnya sampai di kaki puncak. Di situ ada pemeriksaan dari petugas. Bagi siapa yang diperiksa dan ditemukan ada bunga abadi alias bunga edulwise maka akan dikenakan denda. Dari kejauhan bunga yang sempat diambil teman-teman langsung dech dibuangi. Untung saya ga diperiksa kalaupun diperiksa juga gapapa cos ga bawa kok:-) . Dan ternyata  kami bisa beli bunga abadi tersebut di sarangan dengan harga yang murah. Sampai di bawah akhirnya kami mampir di masjid dan diputuskan untuk menginap di dalam masjid. Masak-masak juga di pinggiran masjid. Pagi hari selesai sholat shubuh kami berencana ke telaga sewu “Sarangan” Namun sebelum berangkat takmir masjid datang dan marah-marah besar. Kamipun malu cos suara takmir keras banget. Mungkin kita juga salah nginep tanpa ijin dahulu dan kami memasak di sekitar masjid yang membuat kotor masjid juga. Namun kami sudah membersihkan kok. Dengan buru-buru kami segera persiapan dan membersihkan di sekitar masjid dan berangkat menuju sarangan.

Subhanallah kenangan indah itu pengen rasanya kami ulang. Kawan tunggulah saatnya kita ulang kebersamaan itu. Saat muncak itu saya mengatakan benar-benar kapok tidak akan muncak lagi dech, cos capek, dingin dan berat. Namun di sisi laen kebersamaannya luar biasa. Banyak hikmah yang di dapat, awalnya saya merasa tidak yakin bisa sampai puncak cos berat banget, tapi dengan azzam yang kuat, ya dengan azzam yang kuat akhirnya badai, dingin, capek bercampur jadi satu bisa saya lawan.

Ternyata komitmen untuk tidak naik lagipun runtuh saat kader dakwah UNS mengadakan muncak ke Lawu, tanpa pikir lama kuputuskan untuk ikut dalam ekspedisi itu. Karena kader butuh fisik yang kuat, butuh azzam yang kuat.  Subhanallah lebih enjoy ternyata disaat yang kedua niatan benar-baner karena Allah, sedang yang pertama niat hanya ingin menikmati puncak, bersama-sama teman itu aja tidak lebih. Dan wal hasil berbeda dengan niat yang berbeda, ketika segalanya kita niatkan karena Allah segalanya indah dan penuh makna.

Salam Optimis dan Sukses:-)

One response to this post.

  1. Posted by tuminem on November 29, 2009 at 2:07 pm

    ikuuut!!!,he2,tp naeknya aja..kalo pulangnya pasti gk seru jd gk usah turun gunung;))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: