Gerakkan hati kita untuk Palestina

Kebiadaban Israel atas Palestina yang tidak manusiawi sudah mendapat kecaman dari berbagai pihak di dunia.Namun ternyata masih ada saudara-saudara kita di Indonesia masih belum terbuka hatinya.Ada yang komentar”masalah indonesia aja masih banyak,kenapa harus bantu negara lain?,ada juga”Biarkan aja mereka perang bukan urusan kita,dan masih banyak lagi komentar yang tidak sepantasnya di lontarkan..Ya Rabb semoga hati saudara2 kami yang belum terbuka segera Engkau bukakan..amin..

Sahabat-sahabatku yang saya cintai karena Allah, jangan lupa minimal setiap selesai sholat kita do`akan saudara-saudara kita di palestina semoga mendapat kemenangan,dan para mujahid yang telah syahid mendapatkan JannahNya..lebih baik setiap saat kita selalu mendo`akan mereka..AllahuAkbar!!

ini sedikit sejarah semoga bisa menggerakkan hati saudara-saudara kami di indonesia khususnya…
Indonesia pernah mengalami hal yang sama seperti yang dirasakan oleh rakyat Gaza di Palestina. Peperangan dan diplomasi menjadi warna dalam bagian sejarah perjuangan bangsa Indonesia dan Palestina.

Pada tanggal 10 November 1945 telah terjadi pertempuran dahsyat di seluruh pelosok kota Surabaya. Pada masa itu kota Surabaya di bombardir dari segala kekuatan angkatan perang Inggris dengan dikerahkannya 30 pesawat terbang, 30.000 tentara Inggris dan sejumlah besar kapal perang.

Kondisi ini membuat pertempuran ini menjadi tidak seimbang dimana Indonesia yang baru merdeka diserang oleh kekuatan Inggris yang memiliki peralatan perang modern pada saat itu. Selama 18 hari perperangan Surabaya berkecamuk dengan korban berjatuhan dimana–mana. Kisah heroic ini terekam dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Bagaimana dengan dukungan pihak luar terhadap kemerdekaan Indonesia?. Sejarah merekam bahwa negara yang pertama kali mendukung kemerdekaan Indonesia adalah negara Mesir. Berawal dari usaha tentara sekutu untuk menutup serapat–rapatnya informasi tentang kemerdekaan Indonesia supaya tidak didengar oleh negara–negara Timur Tengah.

Tapi usaha itu sia–sia, seorang yang bernama Mansur Abu Makarim yang bekerja di Kedutaan Belanda di Kairo mengabarkan berita tentang kemerdekaan Indonesia kepada rakyat Mesir dan berita tersebut dimuat di koran dan radio Mesir. Dengan mendengar berita tersebut marak terjadi demo besar–besaran untuk mendukung kemerdekaan Indonesia di sejumlah kota Mesir.

Bahkan para ulama Mesir dan dunia Arab berkumpul dan bersepakat untuk membentuk Lajnatud Difa’ian Indonesia (Panitia Pembela Indonesia). Badan ini dideklarasikan pada tanggal 16 Oktober 1945 di gedung Pusat Perhimpunan Pemuda Islam. Para pemimpin Arab yang hadir dalam acara tersebut adalah Syaikh Hasan Al Banna dan Prof Taufiq Syawi dari Ikhwanul Muslimin, Pemimpin Palestina Muhammad Ali Taher, dan Sekjen Liga Arab Dr Salahuddin Pasya.

Dukungan dunia Arab (Islam) terus mengalir kepada kemerdekaan negara Indonesia dan hal tersebut makin menambah kepercayaan diri kita dalam pergaulan internasional atas kemerdekaan yang telah diproklamirkan.

Pada era sekarang, suasana sudah berubah dimana Indonesia telah mengalami perubahan yang signifikan melalui pembangunan yang dilakukan. Sebuah tragedi kemanusiaan kembali berulang yang ditunjukkan kembali oleh penjajah Israel. Pada 27 Desember 2008 penjajah Zionis Israel telah mengarahkan pesawat tempur F 16 serta helicopter Apache melakukan serangan secara besar–besaran ke seluruh jalur Gaza.

Serangan ini serentak dilakukan ke lebih 30 sasaran yang disinyalir oleh pihak rezim Zionis Israel sebagai markas Hamas. Lebih dari 300 bocah, wanita dan orang tua meninggal jadi korban. Ribuan lainnya luka berat dan ringan.

Dunia Internasional seolah tersentak dan mengeluarkan berbagai statemen mulai yang pro maupun kontra. Para pemimipin negara–negara Arab tidak bisa berbuat banyak karena sudah terlalu banyak menikmati berbagai fasilitas yang diberikan negara barat (Amerika).

Sejarah kembali berulang dengan lakon yang berbeda. Posisi Indonesia sudah bukan negara yang dijajah seperti dahulu. Peranan Indonesia sebagai negara muslim terbesar sangat diharapkan oleh negara Palestina. Demonstrasi besar–besaran menunjukkan rasa solidaritas terhadap rakyat Palestina telah dilakukan di seluruh pelosok kota Indonesia.

Inisiatif diplomasi yang dipimpin oleh Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid, bersama delegasi ulama dunia berusaha mendesak para pemimipin Arab untuk mau berperan lebih kongkrit dalam menyelesaikan permasalahan Palestina. Pengiriman tenaga medis pun dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Peranan ini dirasa masih belum maksimal mengingat posisi Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.

Seharusnya Indonesia bisa mengambil inisiatif peran yang lebih banyak dan mendesak kepada anggota tetap Dewan Keamanan PBB untuk bisa menurunkan pasukan penjaga perdamaian ke daerahGaza dan memaksa Israel untuk menghentikan serangannya.

Perdebatan bahwa masalah Palestina bukan persoalan agama atau bukan harus segera dihentikan. Jangan kita menjadi ahistoris terhadap apa–apa yang pernah kita alami dahulu ketika awal kemerdekaan. Sesungguhnya ada sebuah cita–cita rakyat Palestina yang harus kita dukung yaitu sebuah kemerdekaan.

Keinginan untuk merdeka sudah menjadi sebuah keinginan luhur bangsa Indonesia yang termaktub dalam pembukaan UUD 1945 yang berbunyi, “Bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan”. (http://www.inilah.com/berita/citizen-journalism/2009/01/08/74126/indones)

MUHAMMAD AMIN AL HUSAINI DAN KEMERDEKAAN RI
2008-08-19 11:48:43

MUHAMMAD AMIN AL HUSAINI DAN KEMERDEKAAN RI

oleh : H. Ferry Nur S.Si, Sekjen KISPA

Email: ferryn2006@yahoo.co.id
kispa.org-Syekh Muhammad Amin Al Husaini seorang ulama yang kharismatik, mujahid, mufti Palestina yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap kaum muslimin serta negeri-negeri muslim, termasuk Indonesia, walaupun pada saat itu beliau sedang berjuang melawan imperialis Inggris dan Zionis yang ingin menguasai kota Al Quds, Palestina.

Beliau memiliki nama lengkap Muhammad Amin bin Muhammad Thahir bin Musthafa Al Husaini gelar Mufti Falestin Al Akbar (Mufti Besar Palestina), lahir di Al Quds pada tahun 1893. Diangkat menjadi mufti Palestina pada tahun 1922 menggantikan saudaranya Muhammad Kamil Al Husaini.

Sebagai ulama yang berilmu dan beramal, memiliki wawasan yang luas, kepedulian yang tinggi, Syekh Muhammad Amin Al Husaini mengetahui dan merasakan penderitaan kaum muslimin di Asia dan Afrika, termasuk Indonesia akibat penjajahan yang dilakukan kaum kolonial.

Dukungan terhadap kaum muslimin dan negeri-negeri muslim untuk merdeka dari belenggu penjajahan senantiasa dilakukan oleh Syekh Muhammad Amin Al Husaini, termasuk dukungan bagi kemerdekaan Indonesia.

Ketika tidak ada suatu negara dan pemimpin dunia yang berani memberi dukungan secara tegas dan terbuka terhadap kemerdekaan bangsa Indonesia, maka dengan keberaniannya, Syekh Muhammad Amin Al Husaini mufti Palestina menyampaikan selamat atas kemardekaan Indonesia.

M. Zein Hassan Lc. Lt. sebagai pelaku sejarah, didalam bukunya yang berjudul Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri, Penerbit Bulan Bintang Jakarta, 1980, hal. 40, menjelaskan tentang peranserta, opini dan dukungan nyata Syekh Muhammad Amin Al Husaini secara terbuka mengenai kemerdekaan Indonesia :

“Sebagai contoh, pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ‘ucapan selamat’ mufti Besar Palestina Amin Al Husaini (melarikan diri ke Jerman pada permulaan perang dunia ke dua) kepada Alam Islami, bertepatan ‘pengakuan Jepang’ atas kemerdekaan Indonesia. Berita yang disiarkan radio tersebut dua hari berturut-turut, kami sebar-luaskan, bahkan harian “Al Ahram” yang terkenal telitinya juga menyiarkan.”

Syekh Muhammad Amin Al Husaini dalam kapasitasnya sebagai mufti Palestina juga berkenan menyambut kedatangan delegasi “Panitia Pusat Kemerdekaan Indonesia” dan memberi dukungan penuh.

Peristiwa bersejarah tersebut tidak banyak diketahui generasi sekarang, mungkin juga para pejabat dinegeri ini. Sehingga tidak mengherankan ada suara yang sumir, minor, bahkan sinis ketika ada anak negeri ini membantu perjuangan rakyat Palestina untuk merdeka, membebaskan tanah airnya dan masjid Al Aqsha dari belenggu penjajah Zionis Israel.

“Kenapa kita mikirin negeri Palestina? Negeri sendiri saja bayak masalah!”.

Itulah ungkapan orang yang egois, orang yang berpikiran parsial, orang yang wawasannya hanya dibatasi teritorial yang sempit.

Kalimat tersebut diatas merupakan gambaran orang yang tidak pandai bersyukur, orang yang tidak pandai berterima kasih, ibarat pepatah mengatakan, ”seperti kacang lupa dengan kulitnya”.

Disinilah pentingnya mengenal dan mengetahui sejarah, sehingga tidak mudah dibodohi orang, ada kata-kata hikmah, “orang yang tahu sejarah akan punya ‘izzah”.

“Orang yang paling banyak bersyukur kepada Allah adalah orang yang paling banyak berterima kasih kepada manusia”. (HR. Thabrani).

“Tidak dianggap bersyukur kepada Allah orang yang tidak berterima kasih kepada manusia”.(HR. Abu Daud).

Seharusnya kita berfikir dan merenung, kenapa Indonesia, negeri yang subur dan memiliki sumberdaya alam yang melimpah, sumber daya manusia yang potensial tidak dapat memberikan kesejahteraan kepada rakyat? Mungkin salah satu sebabnya adalah karena kita tidak pandai bersyukur, tidak pandai berterima kasih.

Perhatikanlah peringatan Allah dalam Al Qur’an:

Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan: “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih”.(QS: Ibrahim/14:7).

Setelah berjuang tanpa kenal lelah, Syekh Muhammad Amin Al Husaini wafat pada tanggal 4 Juli 1974, di makamkan di pekuburan Syuhada’, Al Maraj, Beirut, Libanon.

Kaum muslimin dan tokoh pergerakan Islam menangisi kepergian ulama pejuang, pendukung kemerdekaan Indonesia, mufti pembela tanah waqaf Palestina, penjaga kemuliaan masjid Al Aqsha.
Semoga Allah mengampuni segala dosa dan kesalahannya, menerima amal jihadnya dalam membela tempat suci kaum muslimin, kota Al Quds.(http://triyadi.staff.uns.ac.id/)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: