Suasana hujan masih sering terus mengiringi hari-hari sepanjang bulan januari, terkadang pagi hari sudah gerimis, berbeda pada hari ini selasa, 17 januari 2012 , saat ini istri sedang sakit payudaranya. beawal 2 minggu yang lalu istri merasakan ada benjolan di bagian itu, karena takut kanker maka kamipun bertanya-tanya kepada para ibu-ibu yang sudah berpengalaman ada yang jawabannya
“biasa ibu menyusi itu seperti itu, nanti juga kempes, tapi harus dikompres pakai air hangat setiap hari” lega mendengar jawaban itu. tiap haripun istri selalu berusaha mengkompres walau kadang juga sakit, namun hari berganti hari ditunggu tidak kian kempes malah membesar dan tambah sakit, kemudian kamipun bergegas periksa, karena istri trauma dengan kata “rumah sakit” dan “operasi” cos beberapa kejadian yang dulu tidak mengenakan tentang dua kata itu, maka minta diperiksakan ke bidan dulu saja, sambil pijat si kecil sekalian periksakan ke bidan.
Sang bidanpun bilang hal yang sama “itu hanya timbunan ASI yang tidak tuntas, tetapi akan saya kasih obat untuk mengurangi rasa sakitnya. beberapa hari obat diminum dan alhamdulillah sakitnya agak reda. Namun benjolan tak kunjung berkurang, kemudian kakak ipar bertanya kepada tetangga yang pernah mengalami hal yang serupa. Beliau bilang lagi “itu tidak apa-apa, dan saya sering mengalami hal serupa (anaknya 6 beberapa kali mengalami) dan bisa sembuh tanpa harus operasi. Namun dkasih obat semacam salep, namun sang ibu tadi lupa namanya, nanti kalau ketemu suaminya saja tanya sendiri biasanya saya ketemu di masjid suruh tanya langsung.
Beberapa hari saya tunggu tak bertemu juga, karena beliau sedang pergi ke jogya, setelah 3 hari menunggu akhirnya ketemu dan diberitahu obatnya “tomboprob” dengan segera saya ke apotik dan membeli sesuai saran,namun sang apoteker memberi trombo gel katanya sama bisa untuk mengobati itu. selang sehari benjolan itu malah membesar dan memerah kamipun takut dan panik, lagi-lagi istri belum mau diajak ke dokter/rumah sakit, akhirnya kami pergi ke puskesmas. sampai puskesmas sudah hampir tutup, tetapi untuk masih bisa melayani akhirnya istri diperiksa bidan kesimpulannya itu hanya abses dan bisa hilang kata sang bidan, dan dikasih obat dan salep, karena istri punya riwayat alergi antibiotik maka sang bidan tidak berani memberi antibiotik yang seharusnya sakit seperti itu harus dikasih.
setelah sehari dikasih salep dan minum obat dari sang bidan, kaget bukan maen dikeliling darah putih yang sudah mati alias nanah yang hampir pecah dan tersa sakit sekali, akhirnya hampir 2 jam nanah terus dikeluarkan sampai hampir habis, setelah itu kami kembali ke puskesmas pada hari seninnya tapi bidan yang jaga sudah ganti, bidan kali ini sedikit menakutkan . ” ini harus dibawa ke rumah sakit, kamu harus tahu alergi antibiotiknya apa, karena kalau tidak dikasih antibiotik tidak bisa sembuh”semakin menambah panik saja sang bidan ini.
Besok harinya kami langsung mau tes alergi pertama ke Budi sehat, ternyata tidak bisanya mengecek seluruh obat dan makanan itu cukup mahal dan memakan beberapa hari, kemudian ke prodia juga ga bisa hampir sama, kemdian saya bawa ke PKU muhammadiyah sampai sana juga ga bisa tes alergi hanya dibersihkan bagian lukanya saja. tetapi istri masih merasakan sakit keesokkan harinya setelah dibujuk saya dan kakak ipar akhirnya mau diopname agar perawatan lebih bagus, alhamdulillah mau.
Pertama saya bawa ke Kustati, kemudian saya tanya dokter yang menangani laki-laki semua, kemudian dirujuk ke polikliniknya ada dokter perempuan. Sampai sana setelah konsultasi akhirnya dokter merekomendasikan harus dioperasi , tapi diopname dulu di kustati, tetap istri langsung menangis, masih trauma kurang lebih satu jam menagis tak kunjung diam. akhirnya telphon kakak ipar dan dikasih nomor telphon dan direkomendasikan untuk konsultasi ke RS.dr,Moewardi sampai sana sudah didaftarkan kakak kemudian langsung nunggu dan masuk ke ruang dokter. Dokter bilang sudah infeksi dan harus dioperasi, tak banyak komentar istri alhamdulillah bisa luluh dan manut.
Masih harus melewati ujian lagi ketika mendaftar kamar , ternyata sudah penuh dan harus antri , ditunggu sampai 2 jam tak kunjung datang panggilan, masih mengantri nomor 5. akhirnya saya bawa pulang dan istrirahat di rumah, di rumah sakit saya suruh nunggu adik. jam setengah 5 baru ada panggilan dan adik sms, sampai di sana masih harus nunggu satu jam untuk nunggu giliran, setengah enam masuk ruang ODC (one Day Care) sampai jam 7.40 baru masuk.alhamdulillah dapat kamar VIP A yang hanya satu orang sekamar.
Rencana keesokkan harinya langsung operasi, jam 12 malam sudah siap-siap puasa. Namun jam 1 malam dapat kabar dari perawat bahwa HB istri masih kurang , kondisi sekarang baru 7,5 padahal untuk operasi harus 10. akhirnya di tawari apakah ambil bank darah atau donor. Langsung saya telphon dan sms saudara-saudara yang bergolongan darah B. alhamdulillah banyak saudara yang sejenis golongannya. Ba’da shubuh 3 orang datang ke PMI namun hanya 2 yang diambil karena satunya tidak cocok kurang memenuhi standar pendonor. Setelah dua kantong dimasukkan sampai jam 12 malam. keesokkan harinya darah baru diperiksa dan hasilnya HB menjadi 10,1 dan siap untuk dioperasi. Jam 7 kurang dikit istri masuk ruang operasi.
Dalam kesunyian bersama ummi dan rasa lapar saya menunggu di luar dengan banyak berdo’a memohon kepadaNya agar dimudahkan dan diberi kekuatan.alhamdulillah satu jam setengah menunggu sampai tertidur akhirnya panggilan datang”masyfu’ah” bergegas bangun dan menghampiri sang perawat. alhamdulillah istri bisa langsung sadar dan dibawa ke kamar pasien. Sampai kamar langsung sadar dan bisa diajak bicara, kemudian dokter datang bilang kalau mau minum dikasih saja.
Alhamdulillah Ya Rabb kami panjatkan puji syukur kehadiratMu atas limpahan nikmat ini, dan sore harinya bisa dibawa pulang ke rumah.
Semoga cerita ini bisa menjadi bahan perenungan dan evaluasi bagi hamba secara pribadi untuk lebih mensyukuri nikmat-nikmat dari Allah selama ini. dan pesan untuk pembaca yang budiman terutama kaum ibu ketika menyusui. Berikan ASi sampai habis , kalau si bayi sudah kenyang segera di pompa biar payudara dalam kondisi kosong sehingga tidak terjadi timbunan ASI yang cukup berbahaya. Selain itu ketika memberi ASI sambil tiduran jangan sampai bayi hanya maen-maen saja artinya sudah disedot tapi dikembalikan lagi ini juga bisa menjadi salah satu penyebab.
Selamat berjuang istriku tercinta semoga bisa menjadi penggugur dosa..aamiin
ailopyu ippai ^-^


