Minggu, 14 November 2010 jam 3 pagi saya dibangunkan oleh rasa sakit yang amat, yang selama ini baru saya rasakan. Hanya memohon kepadaNya rasa sakit ini minta dihilangkan.
Balsem, minyak kayu putih, kerikan dah kulakukan namun tak ada reaksi yang berubah. Sampai tiba waktu shubuh kurang lebih jam 5 lebih sedikit waktu jepang. mau ke rumah sakit pasti belum buka. akhirnya kutahan dan kutahan.
Teringat ada habattussauda,walau belum makan saya coba masukkan 3 kapsul sekaligus ke dalam perutku. Alhamdulillah dikit reda, namun tidak bertahan begitu lama. Jam 8:30 kucoba melangkahkan kaki ke clinic terekat hanya butuh beberapa menit, namun ternyata hari minggu tidak buka.
Pulang dari clinic perut malah memberontak,meroang-roang, dan akhirnya menggoyang semua isi perut dan habat yang barusan saya minum semua keluar. Rasa sakitpun terbawa bersama habat tadi rasanya. Alhamdulillah ya Rabb akhirnya sakit ini reda.
Namun ternyata tidak bertahan lama juga,hanya beberapa menit. Terus kutahan sambil cari solusi. Sambil duduk kutahan tk terasa 2 jama tertidur sambil duduk. Rasa sakit masih membalut kental. Jam 11 saya coba telphon pihak IMM, dan akhirnya dihubungkan dengan perusahaan. Jam 11:30 ada yang mengetuk pintu, saya buka dan saya kaget karena yang datang sachonya(dirut) dan anaknya. Tak biasanya sacho turun tangan.
Saya di ajak ke clinic terdekat sekitar 700 meter,perkiraaan saya mau naik BMWnya sacho ternyata ga bawa, cuma bawa sepeda, akhirnya ya dengan menahan rasa sakit kutahan sambil bersepeda. Sampai clinic tidak langsung ditangani tapi harus ngantri setengah jam
. Setelah diperiksa memang benar ada seseuatu yang harus dioperasi, namun harus ke rumah sakit besar.
Kembali menunggu surat rekomendasi dari dokter lagi-lagi harus nunggu lama sekitar 15 menit. Karena jarak yang begitu jauh tidak mungkin dengan sepeda, akhirnya kita naik taksi. Sampai rumah sakit morimoto tidak langsung ditangani karena antrian yang begitu panjang harus nunggu 1,5 jam. Rasa sakit yang semakin menyiksa,waktu itu pengen teriak. Namun apa daya
Semua diperiksa dari suhu badan, ronsen dada,perut dll. Akhirnya diputuskan harus operasi. Tepat jam 5 operasi dimulai. Dokter yang begitu ramah memberikan penjelasan
“ini mau di infus, nanti tertidur, perutnya di belah, berusahalah,sambil senyum”. saya hanya menjawab hai ganbarimasu.
“Ya Rabb, mati hidupku hanya di tanganMu, kuserahkan semua kepadaMu, ku ridho kalau harus kembali kepadaMu, dengan terus bertahlil semakin ga sadar, dan akhirnya terbangun sudah dijalankan keluar dari ruang operasi. Terdengar suara dari dokter “edi san owarimashita”,edi san,edisan”
Namun saya tak mampu menjawab,hanya membisu mendengarkan suar2 bising di sekitar. Jam 8 malam saya baru sadar, itupun belum bisa bicara ,nafas buatan masih dipasang di hidung. Walau agak berat dengan nafas buatan ku terus bertahan sampai pagi, Malam ini perawat tiap 1-2 jam sekali datang memeriksa tekanan darah dan terus bertanya. Hanya kata sekenanya saja kujawab.
Pagi hari alhamdulillah dah bisa bernafas lega, bantuan nafas sudah dilepas, rasanya nyawa sudah kembali, Ku bersyukur kepadaMu Ya Raab, berilah kesempatan untuk lebih mendekat kepadaMu.
Siang hari sudah bisa mulai makan, sebelumnya hanya infus yang masuk. Menu makanan saya pesan jangan ada daging maupun sesuatu ektrat yang mengandung daging, udang dan alkhohol alhamdulillah bisa dipenuhi.Makan pertama seger bisa habis .Alhamdulillah
Hari rabu infus sudah mulai dilepas, hanya waktu pagi dan malam saja di pasang selama 30 menit. Setelah itu dicopot dan tidak ada obat yang masuk.Alhamdulillah , karena selama ini “obat” berupa pil emang saya takuti karena pada dasarnya itu bukan obat tapi racun.
Alhamdulillah sejak hari selasa sudah bisa ke toilet sendiri, memang tidak ada teman yang menemani semua harus sendiri dengan bantuan Allah SWT. Ya Rabb hanya syukur kepadaMu kami ucapkan atas semua nikmat ini. Alhamdulillah
Hari jum`at siang dijemput sacho, dan perjalanan pulang dengan bmwnya meluncur ke rumah,
Alhamdulillah ^_^
14 nov – 19 nov 2010
~Kenangan operasi di negeri jepang,tanpa ada yang menunggu~
